Kembali ke Berita
Artikel
Tim KKN UNISNU

Kiai Mashari dan Jejak Khidmah Keagamaan di Desa Kaliombo Pecangaan Jepara

Kiai Mashari dan Jejak Khidmah Keagamaan di Desa Kaliombo Pecangaan Jepara

Kiai Mashari dan Jejak Khidmah Keagamaan di Desa Kaliombo Pecangaan Jepara

Setiap malam Rabu, di salah satu mushola Desa Kaliombo, sekumpulan remaja duduk melingkar mengaji bersama seorang guru yang biasa mereka panggil Kiai Mashari. Sebagian dari mereka dulu jarang terlihat di lingkungan keagamaan desa, bahkan salah satunya pernah bergaul dengan minuman keras. Namun, malam itu mereka datang atas kemauan sendiri, membawa kitab dan duduk tenang menunggu giliran membaca. Suasana semacam ini bukan kebetulan. Ia lahir dari cara Kiai Mashari mendekati warga, khususnya anak muda, dengan sabar dan tanpa menggurui. Bagi warga Kaliombo, sosok inilah yang selama bertahun-tahun diam-diam merawat NU agar tetap terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Kiai Mashari lahir pada 7 Juli 1984. Ia dikenal warga sebagai guru wustho sekaligus salah satu pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Desa Kaliombo. Perjalanan hidupnya banyak diwarnai dengan kegiatan belajar, mengajar, dan mengabdi kepada masyarakat. Pendidikan agama yang diperolehnya dari lingkungan pesantren menjadi salah satu bekal dalam menjalankan kiprahnya sebagai guru mengaji, imam, khatib, serta pengurus NU.

Sejak kecil ia bersekolah di bangku sekolah dasar, lalu sempat melanjutkan ke SMP Negeri 2 Wedung karena saat itu bacaannya belum lancar. Namun, seiring waktu, ia merasa lingkungan sekolah tersebut kurang sesuai dengan arah yang ingin dijalaninya. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Balekambang, tepatnya di Roudlotul Muta'abbidin untuk pendidikan formal dan di Adzkiyah untuk memperdalam hafalan Al-Qur'an. Sebelum serius menekuni dunia pesantren, Kiai Mashari sempat aktif di perguruan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang saat itu berkembang di desanya. Namun, ketertarikannya pada ilmu agama perlahan membawanya untuk fokus menimba ilmu hingga menjadi sosok yang disegani warga. Dalam perjalanan belajarnya, ia juga sempat mengikuti pembelajaran Nahwu Amtsilati dan memperoleh piagam penghargaan atas pencapaiannya. Di Desa Kaliombo, hampir seluruh warganya adalah warga NU, tetapi bukan berarti organisasinya selalu berjalan rapi. Sebelum tahun 2021, struktur kepengurusan NU di desa ini bahkan belum tercatat secara resmi. Ketika ditanya siapa yang saat itu menjadi pengurus, Mbah Hayatun, salah satu warga sepuh, hanya bisa menjawab bahwa memang belum ada. Kegiatan keagamaan warga lebih banyak berjalan melalui kebiasaan turun-temurun, seperti mengaji dan tahlilan, tanpa ada wadah organisasi yang menaunginya secara jelas.

Dari Pengajian yang Sederhana, Tumbuh Kebiasaan Belajar Kitab Perjalanan dakwah Kiai Mashari dimulai dari hal-hal kecil. Sebelum aktif di kepengurusan NU, ia lebih dulu mengabdikan diri sebagai guru mengaji di mushola. Dedikasinya itulah yang kemudian membuat warga mempercayainya untuk mengajar di madrasah. Sekitar tahun 2013, ia dipercaya menjadi guru di tingkat wustho, dan tidak lama setelah itu ia juga diminta mengemban amanah sebagai imam sekaligus khatib. Kiprah Kiai Mashari dalam mengembangkan kegiatan keagamaan di Desa Kaliombo salah satunya diwujudkan melalui pengajian kitab. Pengajian yang sebelumnya belum dilakukan secara rutin mulai diarahkan menjadi kegiatan yang lebih teratur. Selain itu, ia turut mengembangkan program mengaji di mushola berdasarkan wilayah RT. Program tersebut berupa kewajiban mengaji bagi warga yang diatur per RT dengan menggunakan kitab kumpulan yang harus diisi secara rutin. Program tersebut dijalankan untuk meluruskan pemahaman fiqih yang selama ini banyak dipraktikkan warga namun sebenarnya kurang tepat. Tantangan terbesarnya bukan soal materi, melainkan meyakinkan warga agar mau mengikuti dan menerima pembelajaran tersebut. Pada awalnya banyak warga yang ragu dan enggan mengikuti pembelajaran fiqih yang berbeda dari kebiasaan lama. Namun, berkat pendekatannya yang sabar dan telaten, program tersebut perlahan diterima.

Kegiatan mengaji di mushola akhirnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali membiasakan diri belajar agama secara rutin. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. Warga yang semula pasif mulai terbiasa mengisi kitab kumpulan mengaji setiap minggu. Dari kegiatan sederhana tersebut, kepercayaan warga terhadap NU pun ikut tumbuh.

Suara Warga: Perubahan yang Dirasakan dari Dekat Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari semakin rutinnya kegiatan keagamaan, tetapi juga dirasakan oleh warga yang terlibat langsung. Salah seorang warga yang dalam tulisan ini disebut dengan nama Pak Sobirin menilai bahwa Kiai Mashari memiliki cara yang sabar dalam mengajak masyarakat mengikuti kegiatan keagamaan.

“Kalau Kiai Mashari itu orangnya sabar. Beliau tidak langsung menyalahkan kalau ada warga yang belum paham atau belum mau ikut mengaji. Biasanya didekati dulu, diajak ngobrol, baru pelan-pelan diberi pengertian. Menurut saya, cara seperti itu yang membuat warga akhirnya nyaman dan mau ikut kegiatan.” Kesaksian lain datang dari Bu Aminah, ia melihat bahwa kegiatan mengaji yang dijalankan secara rutin membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk kembali belajar agama di tengah kesibukan sehari-hari.

“Dulu kegiatan mengaji memang ada, tetapi tidak selalu rutin. Setelah ada kegiatan yang diatur per RT, masyarakat jadi punya kebiasaan untuk mengaji. Walaupun awalnya ada yang merasa berat, lama-lama menjadi terbiasa. Sekarang kalau sudah waktunya mengaji, warga sudah tahu dan bisa menyempatkan diri.”

Sementara itu, Pak Haryanto, yang dalam tulisan ini juga merupakan nama samaran, memberikan pandangan mengenai pendekatan Kiai Mashari kepada generasi muda. Menurutnya, cara yang tidak menghakimi membuat anak-anak muda lebih mudah menerima ajakan untuk mengikuti kegiatan keagamaan.

“Yang saya lihat, beliau tidak langsung menggurui anak muda. Diajak ngobrol dulu, dibuat nyaman, baru kemudian diarahkan. Jadi anak-anak muda tidak merasa sedang disalahkan. Justru dari situ mereka akhirnya mau datang mengaji dan mengajak teman-temannya.” Ketiga kesaksian tersebut menunjukkan bahwa khidmah Kiai Mashari tidak hanya dirasakan melalui program keagamaan yang dijalankan, tetapi juga melalui cara ia membangun hubungan dengan masyarakat. Kesabaran, komunikasi, dan pendekatan secara perlahan menjadi bagian dari proses yang membuat kegiatan keagamaan lebih mudah diterima warga.

Selain pengajian kitab dan kegiatan mengaji di mushola, Kiai Mashari juga menghidupkan kembali tradisi Bahtsul Masail di Kaliombo. Forum tersebut sebelumnya sudah cukup lama tidak dilaksanakan. Bahtsul Masail menjadi ruang bagi warga untuk membahas persoalan keagamaan dan mencari solusi melalui musyawarah secara ikhlas, bukan menjadi ajang adu argumen pribadi. Keterlibatan Kiai Mashari dalam kehidupan keagamaan masyarakat juga tidak berhenti pada kegiatan pengajian. Selama lima tahun terakhir, ia turut menelusuri jejak dan silsilah Mbah Rongga, tokoh yang dihormati di Kaliombo namun silsilahnya belum diketahui secara pasti. Bersama pihak desa, usaha tersebut membuahkan hasil melalui penyelenggaraan Haul kedua sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menjaga sejarah tersebut tetap hidup di tengah masyarakat.

Dakwah dengan Pendekatan Keterlibatan Kiai Mashari di NU semakin kuat pada tahun 2021, saat desa akhirnya mengadakan pencalonan pengurus dan ia terpilih. Pada periode kepengurusan 2026, ia dipercaya mengemban amanah sebagai tanfidziyah. Namun, yang membuat sosok Kiai Mashari lekat di hati warga bukan hanya jabatan atau programnya, melainkan caranya mendekati orang. Dalam berdakwah, Kiai Mashari lebih mengutamakan pendekatan yang dekat dengan masyarakat. Baginya, mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan memahami terlebih dahulu karakter dan kondisi orang yang diajar sebelum menyampaikan nasihat. Nasihat tidak selalu disampaikan secara langsung, tetapi diawali dengan membangun komunikasi dan memahami kondisi seseorang.

Pendekatan tersebut terutama diterapkan kepada generasi muda. Salah satu pengalamannya adalah ketika mendampingi seorang remaja usia SMK yang sempat terjerumus dalam kebiasaan minum minuman keras. Alih-alih menegur secara langsung, Kiai Mashari lebih dulu mendekati anak tersebut secara emosional, mengajaknya berbicara, dan berusaha memahami dunia yang sedang dijalaninya. Pendekatan itu membuahkan hasil. Anak tersebut dengan kesadarannya sendiri meminta untuk diajari mengaji, bahkan kemudian mengajak teman-temannya untuk belajar bersama setiap malam Rabu. Dalam membina anak-anak muda tersebut, Kiai Mashari tidak langsung menggurui. Ia membangun komunikasi lebih dahulu, menanyakan bentuk pengajian seperti apa yang mereka inginkan, kemudian menyelipkan nasihat di sela-sela obrolan santai. Cara tersebut membuat anak-anak yang dibimbingnya merasa nyaman dan tetap menghormatinya sebagai guru, meskipun sesekali mereka pernah salah langkah. Anak-anak muda yang sebelumnya jauh dari kegiatan keagamaan bahkan kemudian menjadi bagian dari penggerak pengajian malam Rabu.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa dakwah bagi Kiai Mashari bukan hanya tentang menyampaikan ajaran agama. Dakwah juga berarti mendampingi masyarakat agar memiliki ruang untuk berubah dan belajar. Baginya, pendekatan yang perlahan, komunikasi yang baik, serta kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi jalan untuk mendekatkan masyarakat, khususnya generasi muda, dengan kehidupan keagamaan.

Khidmah yang Terus Berjalan Hingga kini, Kiai Mashari masih rutin mengikuti pengajian kitab Tanqih setiap Jumat Pon pagi selepas Subuh. Kebiasaan tersebut terus ia jaga sebagai bentuk konsistensi dalam menuntut ilmu sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat sekitar. Program-program yang ia rintis, mulai dari kewajiban mengaji per RT, forum Bahtsul Masail, pembinaan generasi muda, hingga penelusuran silsilah Mbah Rongga, terus berjalan dan menjadi bagian dari kehidupan keagamaan Desa Kaliombo sehari-hari. Kiprah Kiai Mashari di Desa Kaliombo tumbuh melalui berbagai kegiatan sederhana, mulai dari mengajar, pengajian kitab, pembinaan generasi muda, hingga keterlibatan dalam kegiatan NU. Ia juga turut menjaga tradisi keagamaan dan sejarah desa melalui penelusuran jejak Mbah Rongga serta penyelenggaraan Haul.

Bagi Kiai Mashari, khidmah kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui jabatan atau organisasi. Khidmah berarti hadir untuk mengajar, mendampingi, mendengarkan, serta menjaga agar tradisi keagamaan tetap hidup di tengah masyarakat Desa Kaliombo. Kiprahnya mengingatkan bahwa menjaga sebuah tradisi keagamaan tidak selalu membutuhkan panggung besar atau gelar yang mentereng. Dakwah dapat tumbuh dari pendekatan personal, dari kesediaan mendengar sebelum menasihati, dan dari konsistensi kecil yang dijaga bertahun-tahun.

Selama kitab kumpulan mengaji masih terisi, selama anak-anak muda masih mau datang pada malam Rabu, dan selama Bahtsul Masail masih menjadi ruang musyawarah warga, selama itu pula jejak pengabdian Kiai Mashari di Desa Kaliombo akan terus terasa.

Bagikan:
Kiai Mashari dan Jejak Khidmah Keagamaan di Desa Kaliombo Pecangaan Jepara | KKN Desa Kaliombo